3 Juta Kasus, Pakar Epidemiolog Ingatkan Pemerintah Agar Tak Terlena!

Dicky Budiman epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, merangkum kondisi penularan dan dampak Covid-19 di Indonesia berpotensi jadi jauh lebih buruk daripada Amerika Serikat.

Epidemiolog tersebut merespons situasi terkini terkait kebijakan pelonggaran penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga rencana pengendoran protokol kesehatan di Indonesia. Dicky menyebutkan, kondisi Covid-19 di Amerika Serikat sebagai cermin Indoensia ke depannya. Negara dengan julukan Paman Sam tersebut kembali mengalami lonjakan kasus usai melonggarkan protokol kesehatan karena menganggap presentase vaksinansi yang cukup besar.

Tercatat pada Rabu (18/8/2021), Amerika Serikat berhasil menduduki angka 162.724 untuk kasus Covid-19 dalam sehari. Jumlah tersebut jelas menjadi pencapaian tertinggi setelah tidak adanya catatan kasus yang melebihi 50 ribu dalam seharinya sejak Juni hingga Juli di Amerika Serikat.

“Pelajaran penting dari Amerika ini bahwa kita jangan terlena. Kita bisa lebih buruk,” ungkap Dicky, pada Jumat (20/8/2021).

Dilansir dari data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, lonjakan kasus positif di Indonesia selama sepekan terakhir rata-rata 19 ribu per hari, jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya. Namun, jumlah tes masih jauh dari target yang ditentukan yaitu secara nasional di bawah 200 ribu. Hingga kini, total positif Covi-19 sejak awal pandemi singgah di Indonesia, yaitu 3.950.304 kasus.

Dicky mengkalim, pelandaian tersebut masih berpotensi mengalami perburukan dan memprediksi kemungkinan terjadinya pelonjakan kasus pada September mendatang.

“Jadi kita jangan abai, jangan cepat berpuas diri ketika ini mulai melandai. Itu masih jauh perjalanan. Dan ingat kita ini negara kepulauan. Masih banyak masalah kita,” ujar Dicky mewanti-wanti.

“Beberapa prediksi kita, bahkan September bisa meningkat lagi di Indonesia ini,” pungkasnya.

Dicky mengaku kartu vaksinasi minimal dosis pertama juga belum mumpuni menjadi kunci untuk pelonggaran kegiatan di masyarakat. Ia menilai, di AS yang cakupan vaksinasinya lebih tinggi bisa kembali melonjak.

Dilansir dari The Guardian per 15 Agustus 2021, sekitar 60 persen populasi AS telah disuntik vaksin satu dosis dan hampir 51 persen telah divaksinasi penuh. Merujuk Pusat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, sekitar 93 persen populasi negara itu berada di area transmisi tinggi penularan Covid-19.

Sementara itu, berdasarkan data Kemenkes warga Indonesia per Jumat (20/8/2021) pukul 12.00 WIB, jumlah yang sudah divaksinasi dosis pertama telah mencapai 56.504.055 atau naik 458.124 dosis dari kemarin. Sementara dosis kedua 30.753.137 atau naik 384.612 dosis dari hari sebelumnya. Pemerintah RI diketahui berupaya menggenjot vaksinasi dengan target 208.265.720 orang untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) atas virus corona.

“Pada satu negara dengan cakupan vaksinasi tinggi saja ya bisa mengalami perburukan situasi,” jelas Dicky.

Dicky juga mencontohkan kondisi Covid-19 di Australia. Negara kanguru tersebut tak perlu menggunakan kartu vaksin untuk melakukan perjalanan di dalam negeri. Kendati demikian, potensi laju penularan tetap dapat dikendalikan karena strategi esensial diterapkan.

“Kalau di dalam negeri enggak ada dan ke mana mana juga enggak ada. Tapi aman. Kenapa? Karena positivity rate nya di bawah 1 persen, sering kali 0 persen dan untuk beberapa negara bagian seperti Queensland,” urai Dicky.

“Itu hanya bisa terjadi kalau 3T nya kuat jadi enggak perlu turunan-turunan pembatasan harus ini itu. Jadi akan hilang dengan sendirinya ketika kita memperkuat strategi yang esensial, yaitu 3T, 5M, dan vaksinasi,” sambungnya.

You might also like
Tags: ,

More Similar Posts

Menu