2 Arisan Online Fiktif Di Kota Semarang Banyak Korban Rugi Mencapai Miliaran Rupiah

Dua perempuan di Kota Semarang telah diamankan polisi lantaran terlibat kasus arisan online fiktif dengan kerugian mencapai Rp 4 miliar. Mereka adalah TVL yang melakukan aksinya di Kabupaten Demak dan IN yang beraksi di Semarang. Korban arisan bodong yang dikelola oleh TVL tersebut berjumlah 169 orang. Mereka berasal dari Batam, Medan, Kalimantan, Jakarta dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah. TVL menjalankan arisan bodong tersebut sejak setahun terakhir. Kepada para korban, ia menjanjikan keuntungan saat mengikuti arisan online.

Namun hingga saat sudah jatuh tempo, para korban tidak mendapatkan apapun seperti yang dijanjikan pelaku. TVL ini kemudian dilaporkan ke polisi oleh para korban pada 11 Januari 2022. Setelah tahu dilaporkan para korbannya, TVL sempat melarikan diri ke Bali, terbang ke Surabaya dan kembali ke Semarang. Saat pulang, ia diamankan polisi di salah satu stasiun di Semarang. TVL mengungkapkan, uang yang didapat diputarkan lagi untuk arisan online. Namun, setelah mendapat tarikan online diakuinya banyak member yang kabur. “Uangnya buat muter di arisan itu saja. Uang buat menalangi orang yang kabur. Sekali narik ada yang Rp 10 juta, Rp 20 juta. Paling besar hingga mencapai Rp 300 juta,” ucap TVL. Selain TVL, polisi juga mengamankan IN. Ia adalah reseller arisan fiktif. Korban IN sebanyak 14 orang dengan kerugian mencapai hingga Rp 1 miliara rupiah.

IN mengungkapkan ia baru menjalankan aksinya ini dua bulan menjadi reseller arisan dari owner yang kabur dari tanggung jawab. “Transfer ke owner. Owner-nya malah kabur. Baru dua bulan. Arisannya 14 orang sekitar Rp 1 miliar,” kata IN. IN kemudian dilporkan ke polisi pada 4 November 2021. Seperti TVL, modus yang digunakan IN yaitu dengan menjanjikan arisan online aman dengan menunjukkan daftar member online yang ternyata fiktif.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah, kuasa hukum IN, John Richard mengatakan, kliennya merupakan korban dari arisan online yang dikelola oleh owner berinisial RA yang mengelola 61 reseller. Ia menyebutkan, RA pernah dilaporkan pada bulan November 2021 dan ditahan di kepolisian. “Akibat dari perbuatan RA, klien kami ditetapkan tersangka dianggap melakukan tindakan penggelapan dan UU ITE. Padahal, dia baru dua bulan jadi reseller,” ucap dia. Ia menyebutkan telah mengantongi bukti-bukti aliran dana yang sudah ditransfer ke rekening milik RA.

“Kenapa hanya klien kami yang ditetapkan menjadi tersangka. Semua uang disetorkan di RA,” ujar dia. Kliennya juga sudah berupaya membayar ke anggotanya dengan dana pribadi. “Klien kami memiliki itikad dan kembalikan sebagian uang pelapor. Tapi, malah menjadi tersangka. Dia itu orang kecil biasa. Akibat tuntutan ini anak keduanya sampai keguguran. Sehingga sangat stres,” ucap dia.

Oleh karena itu, ia mendorong Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah untuk melakukan penyelidikan kepada reseller yang lain. “Harusnya penyidik punya pembanding yang lain juga. Kalau memang IN dituntut, maka minta yang 61 orang juga dituntut. Atau kami minta IN dilepaskan, jadi adil,” tegas John. Terkait dua kasus tersebut, Dirreskrimsus Polda Jateng, Kombes Pol Johanson Ronald Simamora mengungkapkan kedua pelaku dijerat Pasal 45 huruf a Ayat 1 Jo Pasal 28 Ayat 1 UU ITE dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar.

You might also like

More Similar Posts

Menu