Akankah Rupiah Menguat

Kepala The Federal Reserve Jerome Powell mengungkapkan bahwa adanya tren suku bunga tinggi dapat berdampak negatif pada ekonomi, yang dianggap sebagai berita baik bagi pasar keuangan. Powell mencatat adanya penurunan inflasi yang sedikit namun konsisten, sesuai dengan target The Fed sekitar 2%.

Menurut Powell yang dikutip dari Reuters, setelah kemajuan lambat menuju target inflasi 2% pada awal tahun ini, data inflasi terbaru menunjukkan adanya kemajuan moderat lebih lanjut. Perbaikan ini diharapkan dapat memperkuat keyakinan bahwa inflasi akan terus bergerak menuju 2%.

Pada Juni 2024, inflasi AS melandai menjadi 3,3% (year on year/yoy), turun dari 3,4% (yoy) pada Mei 2024. Sedangkan inflasi inti pengeluaran pribadi AS (PCE) juga mengalami penurunan menjadi 2,6% (yoy) pada Juni 2024, dari 2,8% pada Mei.

Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 5,25%-5,50%, mencatat level tertinggi dalam 23 tahun terakhir. The Fed telah menaikkan suku bunga selama 11 pertemuan dari Maret 2022 hingga Juli 2023, dan kisaran 5,25%-5,50% telah bertahan selama setahun terakhir.

Meskipun inflasi menunjukkan penurunan, Powell menekankan bahwa inflasi bukanlah satu-satunya risiko yang dihadapi AS saat ini. Dia mengingatkan bahwa ada risiko jika suku bunga tinggi dipertahankan terlalu lama dapat menghadirkan dampak negatif pada ekonomi AS.

Menyusul pernyataan Powell, pasar memperkirakan sebesar 71% bahwa The Fed akan memulai pemangkasan suku bunga pada September, dengan kemungkinan pemangkasan tambahan seperempat persen menjelang akhir tahun. Namun, dalam pertemuan Juni, anggota Federal Open Market Committee (FOMC) hanya menunjukkan kemungkinan satu kali pemangkasan.

Secara teknikal, posisi rupiah dalam analisis menunjukkan bahwa jika dapat menguat melewati level 16.250/US$, rupiah berpotensi untuk mencapai level psikologis 16.200/US$. Support terdekat rupiah berada di 16.250/US$, dengan resistensi potensial pada 16.307/US$ dalam basis waktu per jam.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu