Arus Pelangi Tanggapi Penolakan

Respons Arus Pelangi terhadap Penolakan Anies Baswedan terhadap LGBT
Kelompok hak asasi manusia Arus Pelangi memberikan tanggapan terhadap pernyataan Anies Baswedan, calon presiden nomor urut 1, yang menolak LGBT sambil berjanji tidak akan melakukan diskriminasi. Arus Pelangi mencatat pernyataan tersebut dalam acara Desak Anies pada 22 Desember lalu.

“Echa Waode, Sekretaris Umum Arus Pelangi, mengungkapkan, ‘Kemarin ada salah satu capres yang ber-statement tak mendukung LGBT,'” kata Echa. Organisasi tersebut berkomitmen untuk mendukung hak-hak kelompok LGBT di Indonesia.

Echa menegaskan bahwa kelompok LGBT di Indonesia tidak menuntut pernikahan sesama jenis, melainkan menghargai dan menghormati hak-hak mereka. Selain itu, Echa menjelaskan bahwa selama ini kelompok LGBT sering kehilangan hak sosial, ekonomi, dan budaya, sehingga sulit mendapatkan pekerjaan di sektor formal.

Menanggapi pernyataan Anies yang menyatakan bahwa kelompok LGBT sering terlalu ‘lebay’ dalam menunjukkan identitas gender dan orientasi seksual saat bekerja, Echa menyatakan bahwa orientasi seksual dan pekerjaan seharusnya dipisahkan. Menurutnya, asalkan seseorang profesional dalam bekerja dan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan, orientasi seksualnya tidak seharusnya menjadi halangan untuk mendapatkan pekerjaan.

Echa juga menyampaikan bahwa kasus-kasus diskriminasi yang dialami oleh kelompok LGBT seringkali terkait dengan orientasi seksual yang mereka pilih. Dia menyoroti bahwa pekerja yang berorientasi homoseksual sering dipecat dari pekerjaannya, meskipun pekerjaan dan orientasi seksual seharusnya merupakan hal yang berbeda.

Lebih lanjut, Echa menyinggung bahwa isu LGBT kerap dimanfaatkan oleh politisi untuk mendapatkan dukungan politik menjelang pemilu. Oleh karena itu, Arus Pelangi merasa perlu ikut serta dalam kontestasi politik tahun 2024 untuk membela hak-hak kelompok LGBT.

Echa mengkritik bahwa pada pemilu saat ini, tidak ada pasangan calon presiden-wakil presiden yang secara serius memperhatikan isu keragaman gender dan seksualitas. Dia menekankan pentingnya melihat kelompok LGBT sebagai manusia yang memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya.

Sebagai penutup, Echa menyoroti bahwa setiap lima tahun sekali, menjelang pemilu, isu LGBT kerap diangkat sebagai alat politik, yang dianggapnya sebagai tindakan seksis. Kelompok Arus Pelangi berharap agar isu ini dapat diperlakukan secara adil dan serius oleh para pemimpin politik di Indonesia.

You might also like
Tags: ,

More Similar Posts

Menu