Ganjar: Potensi kopi di Jateng besar

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan potensi kopi di provinsi itu besar sehingga perlu upaya untuk lebih memperluas pasar komoditas tersebut.

Saat memberi sambutan secara virtual dalam acara “Nyruput Kopi Pegunungan Dieng Banjarnegara” yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Pendopo Rumah Budaya Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Kamis, Ganjar mengatakan di Jawa Tengah banyak varian kopi yang dibudidayakan masyarakat.

“Di Jawa Tengah banyak sekali, di Banjarnegara, di Dataran Tinggi (Dieng, red.). Kemudian di sekitar kampung ‘njenengan’, di sekitar Gunung Slamet juga bagus,” katanya kepada moderator bincang wicara Andy F. Noya yang sekarang tinggal di Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

 

Bahkan, saat festival kopi di Surabaya, kata dia, dari 10 yang dinilai, delapan di antaranya berasal dari Jawa Tengah sebagai pemenangnya.

Ia mengatakan saat sekarang yang perlu dilakukan, antara lain bagaimana memperkenalkan lagi, pengemasannya, dan riset tentang mencampur kopi dengan berbagai rasa.

Saat ditanya moderator terkait dengan kesejahteraan petani kopi, Ganjar mengatakan hal itu sebenarnya ada dua yang bisa dilakukan.

“Petani bergabung dan kemudian dia tidak hanya menjual tetapi dia sudah menjual sampai ke minumannya. Kemudian dia bisa bercerita dengan narasi-narasi yang baik, contoh petani di sekitar Gunung Merbabu,” katanya.

Menurut dia, petani di sekitar Gunung Merbabu sekarang bisa menjual kopinya di Candi Borobudur dan terus berusaha menjaga kualitas kopinya dengan baik.

Selanjutnya, mereka memberikan contoh atau lokakarya di tempat tersebut dan petaninya diedukasi untuk menjaga kualitas yang terbaik.

“Yang kedua, mereka harus masuk ke ‘supply chains’-nya (rantai distribusi, red.). Kalau mereka masuk dalam ‘supply chains’-nya dengan kualitas yang bagus, maka ini akan menjadi garansi,” katanya.

Ia mengaku melihat anak-anak muda kreatif yang mencoba membuat kopi dengan baik. Bahkan, mereka membuat mesin-mesinnya sendiri untuk disandingkan dengan mesin lain dan ditunjukkan kepada publik.

Dengan demikian, kata dia, petani tidak hanya menanam, juga mengolah, memroses, sampai punya warung kopi sendiri.

“Itu membikin nilai tambah karena rata-rata yang menjadi problem di dunia pertanian kita termasuk kopi itu pascapanennya. Maka di sinilah peran-peran kami dari pemerintah, kemudian muncul, kami ajak, BI ini juga kami ajak. BI kami ajak, untuk mengurasi, ikut mempromosikan, bahkan beberapa kali mencoba promo ke luar negeri,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar kopi Dieng bisa naik kelas.

Selain Gubernur Ganjar Pranowo, bincang wicara tersebut juga menghadirkan narasumber lain yang terdiri atas Pelaksana Harian Bupati Banjarnegara Syamsudin, Kepala KPw BI Purwokerto Samsun Hadi, dan Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Banjarnegara Turno.

Bincang wicara juga diisi dengan minum kopi bersama 2.000 peserta yang mengikuti acara tersebut secara virtual dari berbagai wilayah Banjarnegara maupun beberapa kota lainnya.

You might also like
Tags: , , , , ,

More Similar Posts

Menu