Hati-Hati Buat Stiker WhatsApp

Sebuah video yang menyebutkan tentang potensi tindakan pidana terkait penggunaan wajah orang lain sebagai stiker WhatsApp (WA) menjadi viral di platform media sosial TikTok. Apa yang dikatakan oleh para pakar tentang hal ini?

Video tersebut diunggah oleh akun TikTok @banghafidd pada Selasa (12/9) dan telah mendapatkan lebih dari 1,3 juta suka hingga Jumat (22/9).

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa menggunakan wajah orang lain sebagai stiker WA bisa dikenakan tindakan pidana sesuai Undang-undang ITE Pasal 32 ayat (1), dengan ancaman hukuman penjara maksimal delapan tahun atau denda maksimal Rp2 miliar.

Pasal tersebut secara garis besar mengatur:

Seseorang yang dengan sengaja dan tanpa izin atau melanggar hukum, mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, atau menyembunyikan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik orang lain atau milik publik.

Kemudian, ketentuan pidana terkait aturan ini diatur dalam Pasal 48, yang menyatakan:

Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dapat dihukum dengan penjara selama delapan tahun atau denda sebanyak Rp2 miliar.

Namun, apakah benar menggunakan wajah orang lain sebagai stiker WA dapat menimbulkan tindakan pidana?

Menurut Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Damar Juniarto, hal ini masih menjadi perdebatan karena tidak ada unsur tindak pidana dalam perbuatan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa meskipun foto termasuk dalam kategori informasi elektronik, membuat stiker WA dari foto merupakan bentuk pengubahan informasi elektronik. Namun, Damar meragukan di mana letak kejahatan dalam membuat stiker dengan wajah orang lain di WA.

“Dilema ini berkaitan dengan tindakan yang dapat dianggap sebagai pidana. Jika semua yang mengubah foto menjadi stiker WA dianggap sebagai pengubahan informasi elektronik tanpa izin, maka semua orang dapat dihukum, dan ini dapat memiliki dampak yang besar,” kata Damar pada Jumat (22/9).

Ia juga menegaskan bahwa penting untuk memastikan apakah tindakan tersebut dilakukan dengan niat jahat atau tidak.

Dalam hal ini, Damar berpendapat bahwa jika seseorang tidak setuju fotonya digunakan sebagai stiker WhatsApp, ia sebenarnya dapat melaporkan hal ini kepada pihak kepolisian. Namun, perlu dijelaskan apakah tindakan tersebut dianggap sebagai penghinaan, pencemaran nama baik, atau pemerasan.

“Setiap warga negara memiliki hak untuk melaporkan, namun laporan tersebut harus sesuai dengan aturan hukum yang ada,” tambahnya.

Meskipun begitu, menurut Damar, Pasal 32 ayat (1) dalam UU ITE sebenarnya tidak ditujukan untuk tindakan seperti membuat stiker WhatsApp.

Menurutnya, pasal tersebut sebenarnya ditujukan kepada pelaku kejahatan yang mengubah informasi yang disimpan di server dengan maksud memanipulasinya, seperti merusak data orang, mengganti nama orang dengan namanya sendiri, atau mengubah nomor rekening, dengan tujuan menguasai harta benda dan lainnya dalam konteks transaksi elektronik.

“Jadi sebenarnya tidak tepat jika hanya karena tidak suka fotonya dijadikan stiker WA, kemudian melaporkannya ke polisi dengan mengacu pada Pasal 32 ayat 1 UU ITE. Hal ini agak menyimpang dari tujuan asli pasal tersebut yang dibuat untuk mencegah tindakan yang merugikan transaksi dan informasi digital,” pungkasnya.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu