IHSG Hari Ini 26/06/2024

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka cenderung menguat pada perdagangan sesi I, Rabu (26/6/2024), di tengah minimnya sentimen dari global dan dalam negeri. Pada pembukaan hari ini, IHSG naik 0,27% ke posisi 6.901,54. Setelah 31 menit, penguatan IHSG bertambah menjadi 0,58% ke 6.922,43.

Nilai transaksi pada awal sesi I mencapai sekitar Rp 1,5 triliun dengan volume transaksi 2,5 miliar lembar saham dan 139.314 kali transaksi.

IHSG menguat meski minim sentimen pasar. Namun, ada sedikit kabar kurang menggembirakan di dalam negeri, di mana rupiah masih cenderung lesu dan perkiraan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang berpotensi membesar karena utang jatuh tempo yang meningkat.

Utang jatuh tempo terjadi di tengah kebutuhan anggaran untuk merealisasikan program Presiden Terpilih Prabowo Subianto, seperti makan bergizi gratis senilai Rp 71 triliun.

Menurut data profil jatuh tempo utang dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, utang jatuh tempo pada 2024 sebesar Rp 434,29 triliun, sedangkan pada 2025 mencapai Rp 800,33 triliun, terdiri dari SBN Rp 705,5 triliun dan pinjaman Rp 94,83 triliun.

Dengan utang jatuh tempo yang besar dan kebutuhan pendanaan APBN yang besar pula, pemerintah harus menerbitkan obligasi dalam jumlah besar, yang dapat menyebabkan harga SBN turun dan imbal hasil naik. Rupiah pun bisa terpengaruh dan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Sepanjang tahun ini, berdasarkan data hingga 20 Juni 2024, investor asing tercatat jual neto Rp 42,10 triliun di pasar SBN, jual neto Rp 9,35 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp 117,77 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Nilai tukar rupiah menguat selama dua hari berturut-turut, namun masih berada di sekitar Rp 16.300-an. Sepanjang bulan ini, nilai tukar rupiah melemah 0,8% dan hampir 6% sepanjang tahun ini. Pelemahan rupiah berdampak besar ke banyak sektor usaha, mulai dari ritel, perusahaan yang menggantungkan bahan mentah dari impor, perusahaan dengan utang dolar AS, IHSG, hingga masyarakat biasa.

Dari luar negeri, Gubernur Federal Reserve Lisa Cook mengatakan pada Selasa bahwa The Fed siap memangkas suku bunga jika kinerja ekonomi memenuhi ekspektasinya, namun dia tidak menyebutkan kapan tindakan tersebut akan dilakukan.

“Kebijakan kami saat ini sudah tepat untuk merespons perubahan dalam prospek ekonomi,” kata Cook dalam pidatonya di Economic Club of New York.

Cook menyatakan bahwa selama setahun terakhir, inflasi telah melambat, dan ketatnya pasar tenaga kerja telah mereda, sehingga risiko mencapai tujuan inflasi dan ketenagakerjaan bergerak menuju keseimbangan yang lebih baik. Dia mengharapkan tren tekanan harga yang melemah akan berlanjut sebelum inflasi turun lebih kuat tahun depan.

Sementara itu, pejabat The Fed lainnya, Michelle Bowman, mengatakan bahwa dia tetap siap menaikkan biaya pinjaman lagi jika kemajuan dalam mengendalikan inflasi terhenti atau terbalik. Pernyataan Bowman ini disampaikan dalam pidatonya di London, menunjukkan perdebatan di dalam The Fed mengenai apakah bank sentral dapat mulai memangkas suku bunga tahun ini atau sebelum pemilihan presiden pada bulan November.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu