Kabar Rupiah 27/09/23

Rupiah mengalami sedikit penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tekanan yang datang dari AS terkait kebijakan hawkish mereka.

Menurut data dari Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp15.475/US$ atau menguat sekitar 0,06% terhadap dolar AS, walaupun beberapa saat kemudian rupiah kembali melemah hingga hampir mencapai level psikologis baru yaitu sekitar Rp15.495/US$.

Indeks dolar AS (DXY) pada Rabu (27/9/2023) juga mengalami pelemahan menjadi 106,18 jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin yang berada di posisi 106,23.

Tekanan pada pasar keuangan ini disebabkan oleh sentimen eksternal dari Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar masih cemas, karena inflasi AS kembali naik. Federal Reserve (The Fed) diperkirakan masih akan mempertahankan sikap hawkish-nya meskipun pekan lalu memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,25-5,50% sesuai ekspektasi pasar.

The Fed memberikan isyarat bahwa mereka akan tetap hawkish dan membuka kemungkinan untuk menaikkan suku bunga ke depan.

Berdasarkan analisis FedWatch, survei menunjukkan bahwa sekitar 23,7% responden meyakini The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan FOMC November. Sedangkan pada pertemuan FOMC Desember, persentase ini meningkat menjadi 34,3% yang meyakini The Fed akan menaikkan suku bunga menjadi 5,50-5,75%.

Langkah ini diambil oleh The Fed untuk mencapai target inflasi AS sekitar 2%. Perlu dicatat bahwa AS mencatatkan inflasi sebesar 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2023, naik dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,2% yoy.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa bank sentral tidak akan ragu untuk menaikkan suku bunga, atau setidaknya mempertahankannya pada tingkat yang lebih tinggi, jika inflasi tidak berada pada lintasan yang lebih rendah secara berkelanjutan, suatu situasi yang mungkin akan berlangsung lebih lama.

Di sisi dalam negeri, terjadi aktivitas repatriasi dividen dari beberapa perusahaan dengan nilai lebih besar dibandingkan dengan bulan sebelumnya, meskipun jumlahnya lebih rendah dari pada Mei 2023.

Pada Selasa (26/9/2023), Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Edi Susianto, memberikan informasi kepada CNBC Indonesia bahwa selain pengaruh dari situasi global yang menyebabkan pelemahan rupiah, ada juga dampak dari repatriasi dividen, khususnya menjelang akhir bulan ini ketika terjadi kebutuhan akan dolar AS, yang mendorong melemahnya rupiah.

Ekonom dari Bahana Sekuritas, Putera Satria Sambijantoro, menambahkan bahwa pencairan dividen terjadi setiap tahun pada bulan Mei dan September 2023. Pencairan pada bulan Mei adalah dividen pertengahan tahun, sementara pada bulan September adalah dividen tahunan.

Permintaan akan dolar AS di dalam negeri meningkat 1-2 bulan sebelum pencairan dividen. Hal ini juga menjadi alasan mengapa rupiah mengalami tren pelemahan hingga saat ini, selain dipengaruhi oleh sentimen global.

Meskipun begitu, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pelemahan ini hanya bersifat sementara. Pemulihan fundamental ekonomi dalam negeri yang semakin baik akan mendorong penguatan rupiah ke depan.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu