Kekerasan Meningkat Di Ekuador

Situasi Kritis di Ekuador: Kekerasan Meningkat dan Presiden Melibatkan Militer
Sebuah peristiwa dramatis mengguncang Ekuador ketika siaran stasiun televisi utama, TC, tiba-tiba diinterupsi oleh sekelompok orang bertopeng bersenjata. Insiden ini menjadi salah satu contoh ledakan kekerasan yang tengah melanda Amerika Latin, khususnya Ekuador.

Presiden baru, Daniel Noboa, yang baru dilantik, berjanji untuk melawan tingginya tingkat kekerasan yang menjadi tantangan besar bagi para pendahulunya. Namun, Noboa kini menghadapi hambatan serius dalam upayanya untuk mengatasi kelompok kriminal yang menguasai penjara, menculik polisi, dan melakukan serangkaian bom.

Keamanan di Ekuador mengalami penurunan sejak awal pandemi virus Covid-19, yang memberikan dampak serius pada ekonomi negara. Pemerintah melaporkan peningkatan jumlah kematian akibat kekerasan, mencapai 8.008 kasus pada tahun 2023, menggandakan angka tahun sebelumnya yang berada di sekitar 4.500 kasus. Pemilihan presiden tahun lalu juga disertai oleh pembunuhan seorang kandidat anti-korupsi. Pemerintah menyalahkan situasi ini pada kekuatan yang semakin meningkat dari geng narkoba, yang memicu destabilisasi di seluruh benua.

Geng kriminal di penjara Ekuador semakin memanfaatkan lemahnya kendali pemerintah, memperluas pengaruh mereka. Kekerasan di penjara semakin sering terjadi, dengan ratusan korban tewas dalam pertempuran antar-geng yang memperebutkan kekuasaan di dalam penjara.

Guayaquil, kota pesisir Ekuador yang dianggap sebagai kota paling berbahaya, menjadi tempat penyelundupan narkoba. Noboa, yang menjabat sejak November lalu, memperkenalkan “Rencana Phoenix” untuk memperkuat keamanan. Rencana ini mencakup pembentukan unit intelijen baru, pasukan taktis bersenjata, pendirian penjara keamanan tingkat tinggi, serta peningkatan keamanan di pelabuhan dan bandara. Namun, upaya ini membutuhkan dana sebesar 800 juta dolar AS, termasuk bantuan senjata baru senilai 200 juta dolar AS dari Amerika Serikat.

Pada hari Minggu lalu, ketua geng kriminal Los Choneros, Adolfo Macias, dilaporkan hilang dari penjara tempat dia seharusnya menjalani hukuman 34 tahun penjara. Pihak berwenang sedang berupaya melacak keberadaannya.

Pada hari Senin, terjadi insiden kekerasan di setidaknya enam penjara, dengan lebih dari 150 sipir dan staf penjara dijadikan sandera. Tiga puluh sembilan narapidana di Riobamba berhasil melarikan diri, meskipun beberapa di antaranya berhasil ditangkap kembali. Kekerasan menyebar ke jalan-jalan pada hari Selasa, dengan tujuh polisi diculik dalam berbagai insiden di seluruh negeri dan lima ledakan di beberapa kota, tanpa laporan korban luka.

Presiden Noboa menolak bernegosiasi dengan “teroris” dan menyatakan bahwa kekerasan ini adalah reaksi terhadap rencana pemerintahannya untuk membangun penjara keamanan tinggi baru guna menahan pemimpin-pemimpin geng kriminal. Ia mengumumkan masa darurat selama 60 hari, sebuah langkah yang diambil oleh pendahulunya, Guillermo Lasso, namun tampaknya belum memberikan manfaat yang signifikan. Deklarasi ini memberikan wewenang kepada militer untuk patroli, termasuk di dalam penjara, dan menetapkan jam malam.

Dalam dekrit terbarunya pada Selasa sore, Noboa mengakui adanya “konflik bersenjata internal” di Ekuador dan mengidentifikasi sejumlah geng kriminal sebagai kelompok teroris, termasuk Los Choneros. Dekrit tersebut memerintahkan angkatan bersenjata untuk menetralisir kelompok-kelompok tersebut.

Meskipun koalisi Noboa memiliki mayoritas di majelis nasional atau parlemen, sebagian warga Ekuador masih mempertanyakan mengapa presiden tidak mengambil tindakan lebih keras terhadap geng kriminal. Noboa berencana untuk menggelar pemungutan suara tahun ini, dengan fokus pada isu keamanan, termasuk pertanyaan tentang pencabutan larangan ekstradisi warga Ekuador dan izin penyitaan aset tersangka kriminal.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu