Kemenkes Bongkar Strategi Tangani Pandemi Selama 3 Bulan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bongkar sejumlah strategi yang diterapkan dalam menangani Covid-19 selama tiga bulan terakhir.

Berpacu pada dokumen Kemenkes, pemerintah meningkatkan sejumlah upaya deteksi diantaranya, tes epidemiologi vs tes screening, meningkatkan rasio kontak erat yang dilacak menggunakan Babinsa, serta meningkatkan deteksi di pintu masuk.

“Meningkatkan surveilans genomik di daerah-daerah berpotensi lonjakan kasus,” dikutip dari dokumen tersebut, pada Senin (13/9/2021).

Selanjutnya, pada sisi terapeutik, Kemenkes meningkatkan pemanfaatan isolasi terpusat dan mengerahkan tenaga medis cadangan. Adapun, tenaga medis tersebut antara lain dokter internship, koas, dan mahasiswa cadangan.

Kemenkes juga mengonversi tempat tidur 30-40 persen kapasitas rumah sakit untuk perawatan Covid-19 dan memenuhi suplai oksigen, alat kesehatan, dan sumber daya manusia. Pemerintah juga memperketat syarat masuk rumah sakit hanya untuk pasien dengan saturasi oksigen kurang dari 95 persen dan sesak napas.

“Diawasi oleh tenaga aparat atau relawan, agar hanya kasus sedang, berat, kritis di RS,” ungkap dokumen tersebut.

Kemenkes mengalokasikan vaksin hingga 50 persen di daerah-daerah dengan kasus Covid-19 dan mobilitas yang tinggi.  Sentra vaksinasi juga dipilih di berbagai tempat yang mudah dijangkau oleh publik dan pemerintah menetapkan sertifikat vaksin sebagai syarat bagi orang yang hendak melakukan perjalanan maupun beraktivitas di ruang publik. Selain itu, percepatan vaksinasi bagi kelompok rentan.

“Termasuk lansia dan orang dengan komorbid,” ujar dokumen tersebut.

Kemenkes juga memantau perkembangan mutasi virus Covid-19 di luar negeri agar tidak masuk ke dalam negeri. Adapun mutasi tersebut antara lain, Lambda (C.37), Mu (B.1.621 +B.1.621.1) yang oleh WHO dikategorikan sebagai Variant of Interest, serta C.1.2 yang belum memenuhi kriteria Variant of Concern (VOC)
maupun Variant of Interest (VOI) WHO.

Kemenkes menilai, varian Delta merupakan jenis mutasi virus Corona yang mendominasi kasus positif di Indonesia.

“Dalam 3 bulan terakhir, varian Delta (B.1.617.2 + AY.x) merupakan varian dominan yang bersirkulasi di Indonesia,” beber Kemenkes.

Informasi tambahan, Kemenkes juga menyebut penerapan protokol kesehatan yang didukung dengan penggunaan teknologi digital menjadi salah satu kunci menangani pandemi.

You might also like
Tags: , , ,

More Similar Posts

Menu