Kenali PPJB & AJB Properti

Dalam transaksi jual beli rumah atau properti, terdapat beberapa istilah teknis yang mungkin terasa asing bagi sebagian orang, seperti Pengikatan Perjanjian Jual Beli (PPJB) dan Akta Jual Beli (AJB). Seringkali, istilah-istilah ini dapat menimbulkan kebingungan, tetapi pemahaman terhadap keduanya menjadi penting jika anda berniat membeli aset tersebut.

PPJB, yang juga dikenal sebagai surat perjanjian jual beli properti, dibuat ketika pembayaran harga properti belum lunas. Dokumen ini mencakup informasi seperti harga, jangka waktu pelunasan, dan syarat-syarat untuk menyusun AJB. Dengan jelas, sertifikat properti masih atas nama penjual hingga seluruh klausul terpenuhi. PPJB berperan sebagai ikatan sementara untuk mencegah properti dijual ke pihak lain sebelum transaksi selesai dan AJB dibuat di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Di sisi lain, AJB merupakan bukti resmi transaksi atas suatu aset properti dan diterbitkan oleh PPAT, bukan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Memegang AJB menunjukkan bahwa pembelian properti dari satu pihak telah dilakukan sepenuhnya. Penting untuk diingat bahwa kepemilikan sah atas properti tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan AJB. AJB hanya berfungsi sebagai dokumen yang membuktikan peralihan hak atas tanah dan bangunan, sesuai dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok Agraria.

Jenis sertifikat seperti SHM (Sertipikat Hak Milik), SHGB (Sertipikat Hak Guna Bangunan), SHGU (Sertipikat Hak Guna Usaha), atau SHSRS (Sertipikat Hak Satuan Rumah Susun) memiliki peran berbeda-beda sesuai dengan jenis hak atas properti tersebut. Misalnya, SHM merupakan bentuk kepemilikan tertinggi dengan hak yang paling kuat, sedangkan SHGB dan SHGU memiliki batas waktu karena memiliki status yang mirip dengan penyewaan.

You might also like
Tags: ,

More Similar Posts

Menu