Ketegangan di Semenanjung Korea

Tensi Meningkat di Semenanjung Korea: Korut Tembakkan Rudal Jelajah ke Pesisir Barat
Korea Utara (Korut) kembali menciptakan gelombang ketegangan di Semenanjung Korea setelah melepaskan beberapa rudal jelajah ke arah laut di pesisir barat negara tersebut. Aksi provokatif ini langsung direspons oleh Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (Korsel), yang menyebut peluncuran tersebut sebagai indikator terbaru eskalasi ketegangan di kawasan tersebut.

Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan mengonfirmasi bahwa peluncuran rudal tersebut terjadi pada pukul 07.00 waktu setempat. Meskipun jumlah rudal yang diluncurkan tidak diungkapkan, JCS menyatakan bahwa intelijen Korsel dan Amerika Serikat (AS) telah menganalisis kejadian tersebut. Para pejabat juga terus memantau aktivitas pasukan nuklir Korut sebagai respons terhadap tindakan provokatif tersebut.

Sanksi yang diberlakukan oleh Dewan Keamanan PBB terhadap program senjata Korut sepertinya tidak mampu mencegah negara tersebut untuk terus melakukan uji coba rudal jelajah. Menteri Pertahanan Korsel, Shin Won-sik, mengecam peluncuran-peluncuran tersebut sebagai ancaman serius bagi keamanan negaranya.

Dalam kunjungannya ke Armada Sayap Tempur ke-17, unit pesawat tempur siluman F-35 Korsel, Shin menegaskan bahwa pemimpin rezim Korut, Kim Jong-un, harus memahami konsekuensi serius dari tindakan agresifnya. “Bila Kim Jong-un membuat pilihan terburuk dan memulai perang, kalian pasukan kasat mata yang melindungi Korea Selatan harus menjadi garda depan dalam menyingkirkan pemimpin musuh secepat mungkin,” tegas Shin.

Sementara itu, peluncuran rudal terbaru Korut ini juga bersamaan dengan dilakukannya latihan militer oleh unit tempur khusus Angkatan Laut Korea Selatan di pesisir timur Provinsi Gangwon yang berbatasan langsung dengan Korut. Pihak Pyongyang mengklaim telah melakukan uji coba rudal hipersonik jarak-menengah bahan bakar padat pada awal bulan ini.

Reaksi keras juga datang dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang yang mengecam tindakan provokatif Korut. Pekan lalu, media Korut melaporkan bahwa negara tersebut melakukan uji coba drone dengan kapabilitas nuklir bawah laut sebagai bentuk protes terhadap latihan gabungan antara Korsel, AS, dan Jepang.

Di tengah ketegangan ini, Korut juga dikabarkan menghancurkan monumen besar di Pyongyang yang menjadi simbol rekonsiliasi antara kedua negara Korea. Langkah tersebut diambil setelah Kim Jong-un menyatakan Korea Selatan sebagai “musuh utama” dan mengklaim bahwa unifikasi tidak lagi mungkin. Citra satelit Pyongyang yang menunjukkan pembongkaran monumen tersebut belum dapat dikonfirmasi. Situasi di Semenanjung Korea terus dipantau secara ketat oleh pihak terkait di tingkat regional dan internasional.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu