Koes Plus Dipenjara

Yok Koeswoyo Bongkar Konspirasi Koes Plus: Dipenjara demi Misi Operasi Kontra Intelijen pada Era Soekarno

Yok Koeswoyo, satu-satunya anggota Koes Plus yang masih hidup dari grup Koes Bersaudara, telah mengungkapkan fakta mengejutkan di balik masa penjara mereka selama era Orde Lama di bawah pemerintahan Presiden Pertama RI, Soekarno.

Menurut Yok Koeswoyo, Koes Plus yang waktu itu masih dikenal sebagai Koes Bersaudara, sebenarnya tidak benar-benar dipenjara pada 29 Juni 1965. Mereka sebenarnya “pura-pura” dimasukkan ke dalam penjara oleh pemerintah.

“Dulu kita tuh pura-pura dimasukkan ke penjara tiga bulan segala macam, tidak (dipenjara),” ucap Yok Koeswoyo.

Tujuan sebenarnya dari penahanan ini adalah untuk memberikan tugas kepada Koes Plus dalam operasi kontra intelijen yang dipimpin oleh pemerintahan Soekarno. Operasi ini merupakan bagian dari gerakan Soekarno yang menentang neo kolonialisme dan neo imperialisme, termasuk gerakan Ganyang Malaysia.

“Jadi dulu kami itu ikut KOTI Komando Operasi Tertinggi, Bung Karno itu tidak setuju dengan segala bentuk New Imperialisme, New Kolonialisme, lah karena kami sudah punya penggemar di Malaysia, Singapura, Filipina Selatan, kami sudah mau digunakan oleh bung Karno karena kami ada di dalam KOTI, jadi KOTI kami dipakai,” ungkap Yok Koeswoyo.

Setelah tiga bulan di penjara, mereka dibebaskan pada 27 September 1965, dan banyak yang mengira bahwa mereka adalah lawan dari Bung Karno. Namun, sebenarnya, mereka dimasukkan ke penjara karena mereka diberikan tugas oleh pemerintah.

“Di luar seolah-olah kami itu gini (berseberangan dengan Bung Karno), padahal enggak, kami itu dimasukkan penjara karena kami mau diberi tugas,” kata Yok Koeswoyo.

Yok Koeswoyo memutuskan untuk membuka rahasia ini setelah 50 tahun berlalu.

Diketahui, operasi kontra intelijen adalah operasi penggalian informasi yang bersifat strategis dan taktis untuk menggagalkan rencana musuh atau pihak yang berlawanan.

Koes Plus kemudian tetap menjaga rahasia tersebut meskipun rezim berganti dari Orde Lama menjadi Orde Baru di bawah Soeharto. Mereka bahkan mendapat tugas serupa dari negara dan dikirim ke Timor Leste.

Namun, berbagai peristiwa politik, seperti G30S pada 30 September 1965, mengakibatkan terhentinya misi tersebut.

Yok Koeswoyo mengungkapkan bahwa Koes Plus tetap menjaga rahasia tugas mereka selama bertahun-tahun meskipun rezim berubah. Mereka tetap setia kepada kewajiban mereka.

Koes Plus akhirnya berangkat ke Timor Leste pada November 1974 dalam sebuah misi rahasia yang diatur dalam Opsus. Mereka digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk mengukur dukungan masyarakat Timor Leste terhadap integrasi dengan Indonesia.

Fakta mengejutkan ini membuka mata terhadap peran seniman dan musisi dalam politik pada masa itu, terutama dalam konteks perjuangan melawan imperialisme budaya. Konfrontasi yang dipimpin oleh Soekarno terhadap Blok Barat memperlihatkan bagaimana musik dan seni menjadi alat politik.

Koes Plus, yang awalnya dilarang menyanyikan musik ala Barat, ternyata menjadi bagian penting dalam misi rahasia negara. Fakta-fakta ini mengungkapkan sisi yang kurang dikenal dari sejarah musik dan politik Indonesia pada masa itu.

Koes Plus, yang didirikan pada tahun 1968 dan sebelumnya dikenal sebagai Koes Bersaudara, adalah band legendaris yang telah menciptakan banyak lagu hits yang masih populer hingga saat ini. Meskipun anggotanya telah berpulang, Yok Koeswoyo tetap hidup sebagai saksi hidup dari sejarah musik dan politik Indonesia.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu