Kontroversial Boikot Zara

Warganet Indonesia Serukan Boikot Zara Setelah Kampanye Fesyen Kontroversial
Zara, perusahaan fesyen asal Spanyol, tengah dihadapkan pada gelombang protes dan seruan boikot setelah meluncurkan kampanye terbarunya yang menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Kampanye yang diberi nama “ZARA ATELIER Collection 04_The Jacket” disoroti karena dianggap tidak peka terhadap situasi genosida yang tengah berlangsung di Gaza.

Seharusnya menampilkan ragam desain jaket, kampanye ini malah dianggap sebagai lambang ketidakpekaan Zara terhadap tragedi genosida yang terjadi di Gaza. Visual promosinya menampilkan gambar yang mirip dengan situasi kematian dan kesedihan yang sudah familiar bagi mereka yang mengikuti perkembangan konflik di Gaza.

Gambar jenazah yang dibungkus kain putih, identik dengan kain kafan tradisional Muslim, dan desain interior yang dipenuhi puing-puing dan potongan karton, mengingatkan kita pada peta Palestina. Kampanye ini dianggap merendahkan kematian dan penderitaan warga Palestina, memicu gelombang protes dan seruan boikot di media sosial.

Reaksi di media sosial sangat cepat dan keras, dengan banyak pengguna mengkritik Zara atas ketidakpekaannya. Beberapa menilai bahwa kampanye ini, yang seharusnya menjadi upaya pemasaran unik, malah melanggar batas etika dan kepekaan sosial.

Seorang pengguna media sosial mengecam, “Zara tahu apa yang dilakukannya. Jangan sedetik pun percaya bahwa kampanye ini terjadi secara organik dan polos. Mengapa mereka belum mengklarifikasi kesalahpahaman tersebut? Diberi pernyataan? Minta maaf atas simbolismenya?”

Keluhan serupa juga muncul terkait sejarah Zara yang dianggap mendukung pihak Israel. Seorang pengguna mengingatkan peristiwa di tahun sebelumnya, ketika kepala desainer wanita Zara, Vanessa Perilman, diketahui mengirim pesan rasis kepada model Palestina Qaher Harhash.

Zara bukan kali ini saja menghadapi seruan boikot. Sebelumnya, pada Oktober tahun lalu, warga Palestina memboikot merek ini setelah terungkap bahwa Joey Schwebel, ketua garis keturunan Zara di Israel, mendukung kampanye untuk anggota sayap kanan Knesset, Itamar Ben Gvir, yang terkenal dengan pandangan ekstrem anti-Palestina.

Boikot tersebut memunculkan video warga Palestina membakar pakaian Zara sebagai bentuk protes terhadap perusahaan yang dianggap “rasis”. Keterlibatan Ben Gvir yang memiliki pandangan pro-ekstremis semakin menambah kontroversi terhadap Zara.

Dengan gelombang protes dan seruan boikot yang semakin meluas di media sosial, Zara dihadapkan pada tuntutan untuk memberikan klarifikasi dan tanggapan terhadap kontroversi yang melibatkan perusahaan ini.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu