Mengolah Kluwih Menjadi Olahan Bernilai Jual Tinggi

SMID-Mengolah Kluwih Menjadi Olahan Bernilai Jual Tinggi

Semarang – Durotul Mahmudah, warga Desa Kaliyoso, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, mengolah buah sukun atau kluwih menjadi berbagai olahan jenis makanan dan jajanan, diantaranya kripik, abon, jenang, dan emping biji kluwih.

Buah kluwih ini sejenis buah sukun dengan tekstur seperti biji nangka karena memiliki biji. Sebagian masyarakat megolah buah kluwih biasanya dijadikan sayur, namun ditangan Durotul, buah kluwih ini diolah menjadi berbagai makanan yang memiliki nilai jual tinggi.

Awalnya, ide dari pemanfaatan buah kluwih ini karena melihat hasil pasokan yang sangat melimpah di kampung tersebut. Olahan buah kluwih yang menjadi andalan, orang-orang menyukai jenang tersebut dikarenakan memiliki banyak serat dibandingkan dengan jenang dari tepung beras pada umumnya. Proses pembuatannya pun tergolong mudah dan bahan yang digunakan juga sederhana yakni buah kluwih, gula pasir, gula merah, santan, dan tepung beras.

“Yang diambil dari buah kluwih untuk olahan jenang adalah bijinya, sedangkan daging kluwih diolah menjadi keripik dan abon. Biji kluwih yang keras, sebelumnya dikukus hingga matang agar lunak lalu dihaluskan,” kata Durotul.

Biji buah yang telah matang kemudian dicampur dengan gula, santan, dan tepung yang sedang dimasak. Proses pengolahan ini memang membutuhkan waktu sekitar empat jam agar tercampur rata dan agar jenang awet tanpa pengawet buatan. Sehingga jenang ini mampu bertahan selama 2 minggu setelah pengemasan. Sedangkan buah yang dipisahkan tadi diolah menjadi abon dan kripik kluwih.

Dalam sehari, Durotul dapat mengolah lima kilogram biji kluwih yang berasal dari 15 buah kluwih. Untuk harga jenang ukuran kecil berisi 12 bungkus dipatok dengan harga Rp 15.000, untuk abon dengan berat 100 gram, dijual Rp 15.ooo dan emping dijual dengan harga Rp 60.000 per kilogramnya.

You might also like
Tags: , , , , ,

More Similar Posts

Menu