Penolakan Kenaikan Harga Gas PGN

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, telah mengungkapkan pendapatnya tentang rencana kenaikan harga gas untuk industri yang bukan merupakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Dengan tegas, Menteri Arifin menolak kenaikan harga yang diajukan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Menteri Arifin bahkan menyatakan bahwa rencana kenaikan harga gas untuk pelanggan industri non-HGBT pada tanggal 1 Oktober 2023 mendatang dianggap ‘tidak halal’.

“Mau diapain? Nggak boleh (naik). Nggak, nggak halal itu. Kan hulunya nggak dinaikkan, malah transmisinya harusnya bisa dikurangin. Kenapa harus dinaikkan?” ujar Arifin saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Kamis (14/9/2023).

Di sisi lain, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, sebelumnya mengakui bahwa sebenarnya sah-sah saja bagi PGN untuk mengumumkan rencana kenaikan harga gas bagi pelanggan industri non-HGBT. Namun demikian, pemerintah memiliki kebijakan lain yang tetap menjaga agar harga gas tidak naik.

“Kita tidak mengizinkan. Itu sebenarnya aturan dari mereka, maka harus diumumkan sekarang, kalau tidak diumumkan sekarang nanti sudah terlambat, jadi umumkan sekarang, tapi pemerintah tetap tidak akan menaikkan harga,” kata Tutuka di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Selasa (29/8/2023).

Menurut Tutuka, pada prinsipnya pemerintah ingin memastikan agar harga gas untuk pelanggan industri tetap ekonomis. Terlebih lagi, pihaknya juga telah menetapkan alokasi gas yang ditujukan untuk industri.

“Selain itu, jika mereka menjual dengan harga yang memberatkan konsumen, itu tidak boleh,” ujarnya.

Alasan di Balik Kenaikan Harga Gas

Direktur Utama PGN, Arief Setiawan Handoko, sebelumnya mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mendorong perusahaan untuk menyesuaikan harga gas. Pertama-tama adalah sumber pasokan (Gas Pipa, LNG, CNG), kedua adalah harga pasokan, dan ketiga adalah kontribusi volume dari masing-masing pasokan gas.

Arief menjelaskan bahwa harga gas yang diberlakukan oleh PGN kepada pelanggan juga dipengaruhi oleh dinamika dan perubahan dalam seluruh rantai bisnis gas bumi, termasuk harga yang ditetapkan oleh pemasok gas (hulu/KKKS) kepada PGN. Semua ini mempertimbangkan ekonomi dari berbagai lapangan yang berbeda-beda. Selain itu, juga terjadi penyesuaian volume pasokan gas pipa dari pemasok gas.

“Berdasarkan surat edaran dari PGN kepada pelanggan, ada rencana kenaikan harga gas berdasarkan kategori. Misalnya, pelanggan Gold akan dikenakan tarif US$ 11,89 per MMBTU, naik dari sebelumnya US$ 9,16 per MMBTU. Pelanggan Silver akan dikenakan tarif US$ 11,99 per MMBTU, naik dari sebelumnya US$ 9,78 per MMBTU. Pelanggan Bronze 3 akan dikenakan tarif US$ 12,31 per MMBTU, naik dari sebelumnya US$ 9,16 per MMBTU. Pelanggan Bronze 2 akan dikenakan tarif US$ 12,52 per MMBTU, naik dari sebelumnya US$ 9,20 per MMBTU. Pelanggan Bronze 1 akan dikenakan tarif Rp 10.000 per meter kubik, naik dari sebelumnya Rp 6.000 per meter kubik.”

You might also like
Tags: ,

More Similar Posts

Menu