Proyeksi Ekonomi Indonesia di Tengah Pandemi

Proyeksi Ekonomi Indonesia di Tengah Pandemi

Tiga bulan setelah kasus positif Covid-19 dikonfirmasi di Indonesia, jumlah total kasus positif sudah menembus lebih dari 30.000 jiwa.

Jumlah total kasus Covid-19 di Pulau Jawa masih tertinggi dibandingkan daerah lain, namun rata-rata laju penambahan kasus baru lebih rendah dibandingkan dengan luar Jawa. Pemerintah terus berupaya menekan laju peningkatan penularan Covid-19.

Namun disisi lain, pemerintah juga berusaha untuk menanggulangi dampak yang timbul akibat pandemi ini, salah satunya di bidang ekonomi. Sebab, keselamatan dan ketahan ekonomi masyarakat merupakan prioritas utama pemerintah. Melemahnya perekonomian akibat wabah Covid-19 menyebabkan anggaran pemerintah mengalami defisit.

“Pemerintah pada prinsipnya selalu menempatkan keamanan dan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama, disamping menjaga ketahanan ekonomi dalam menghadapi pandemi Covid-19,” tandas Wakil Presiden (Wapres) K. H. Ma’ruf Amin saat memberikan kuliah umum pada Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 62 dan Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) 23 Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS) RI, melalui konferensi video di kediaman resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Selasa (6/7/2021).

Meskipun pandemi Covid-19 telah mendisrupsi cara hidup masyarakat di dunia termasuk Indonesia keadaan ini juga telah memberikan pelajaran bagi setiap individu untuk beradaptasi dan bertransformasi dari tata cara hidup konvensional menuju tatanan hidup yang baru.

“Kita semua menyaksikan berbagai inovasi, kreativitas, praktik-praktik terbaik, dan cara-cara baru yang berkembang begitu cepat, sebagai bagian dari upaya untuk beradaptasi dengan kondisi saat ini,” urai Wapres.

Wapres menyampaikan, berbagai kebijakan luar biasa telah diambil oleh pemerintah sejak tahun 2020 untuk menangani dampak sosial ekonomi akibat pandemi Covid-19, salah satunya adalah realokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diarahkan sepenuhnya untuk keperluan tersebut. Wapres menyampaikan bahwa terdapat beberapa perkembangan positif yang berhasil dicapai dalam awal tahun 2021 berdasar langkah-langkah yang telah dilakukan.

“Kita bersyukur bahwa upaya yang kita lakukan dalam mengelola krisis akibat pandemi Covid-19, khususnya dari sisi ekonomi menunjukkan hasil yang positif dan memberikan harapan pemulihan,” jelas Wapres.

Wapres juga menegaskan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen telah mencapai 104.4 pada Mei 2021.

“Inflasi inti mulai menunjukkan peningkatan yang berarti adanya peningkatan demand,” tegasnya.

Pemerintah saat ini tengah menghitung kembali kemungkinan diperlukannya tambahan anggaran untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan program perlindungan sosial ketenagakerjaan yang antara lain mencakup dukungan bagi UMKM, Program Keluarga Harapan (PKH), Program Bantuan Pangan non-Tunai, Program Bantuan Sosial Tunai dan BLT Desa, Program Kartu PraKerja dan Program Karya, dan pemberian kartu kepada UMKM.

“Untuk itu pemerintah sedang menghitung kembali kemungkinan dibutuhkannya tambahan anggaran untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam rangka menjaga daya beli, mendorong perekonomian, serta penanganan kesehatan yang belum dialokasikan dalam APBN berjalan, termasuk melalui kebijakan refocusing/ realokasi kembali belanja pemerintah,” jelas Wapres.

You might also like
Tags: , , , , , , , ,

More Similar Posts

Menu