Rasisme di Sepak Bola Indonesia

Presidium Nasional Suporter Sepakbola Indonesia mendorong PSM Makassar untuk melaporkan akun-akun yang melakukan komentar rasisme terhadap pemain mereka kepada pihak berwenang, agar dapat menjadi pelajaran bagi suporter sepakbola. Pengamat Tommy Apriantono mengungkapkan bahwa kasus perlakuan rasisme di Indonesia, terutama terhadap pesepakbola dari Indonesia Timur, cukup tinggi baik di dalam stadion maupun di media sosial.

Ketua PSSI, Erick Thohir, menyatakan kekecewaannya terhadap kasus ini dan mengancam untuk menghentikan kompetisi Liga 1 2023/2024. Namun, langkah tersebut menuai pertanyaan apakah tepat dilakukan. Pertandingan antara PSM Makassar dan Persija dalam laga perdana Liga 1 berakhir imbang 1-1, namun setelah pertandingan, pelatih Persija, Thomas Doll, menyebut pemain PSM Makassar sengaja melakukan tindakan untuk merusak ritme permainan dan mengulur-ngulur waktu. Pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares, membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa pemainnya jatuh karena intensitas pertandingan, bukan pura-pura.

Di media sosial, akun resmi PSM Makassar dipenuhi dengan komentar ejekan dan olok-olok yang mencemooh klub dengan sebutan “Guling Guling FC.” Selain itu, beberapa akun juga menuliskan komentar ejekan berbau rasisme terhadap pemain PSM Makassar. Presidium Nasional Suporter Sepakbola Indonesia telah melaporkan kasus ini kepada PSSI dan berupaya mengidentifikasi akun-akun yang melakukan olok-olok rasisme di Instagram. Namun, beberapa akun tersebut diduga palsu, dengan sedikit atau tanpa pengikut serta foto profil kosong. Oleh karena itu, klub PSM Makassar disarankan untuk melaporkan akun-akun tersebut ke pihak berwenang menggunakan Undang-Undang ITE.

Tommy Apriantono, pengamat sepakbola, menyatakan bahwa perilaku rasisme di Indonesia cukup tinggi dan sering menyasar pesepakbola dari Indonesia Timur, mengikuti pola yang terjadi di liga-liga Eropa. Tujuan dari perilaku tersebut adalah untuk memprovokasi pemain agar kehilangan fokus. Dia setuju dengan upaya Presidium Nasional Suporter Sepakbola Indonesia untuk menindaklanjuti kasus ini secara hukum dan memberikan sanksi seberat mungkin kepada pelakunya. Dia juga menyarankan agar suporter yang berperilaku rasisme di dalam stadion dilarang menonton pertandingan sepakbola selamanya, sementara klub harus dikenai denda. Namun, pengawasan terhadap penonton oleh steward di Indonesia dianggap belum efektif.

Erick Thohir, Ketua Umum PSSI, mengisyaratkan bahwa kompetisi Liga 1 dapat dihentikan sebagai respons terhadap kasus rasisme yang menimpa pemain PSM Makassar. Namun, Presidium Nasional Suporter Sepakbola Indonesia dan Tommy Apriantono menentang langkah tersebut, dan menganggap bahwa lebih baik mengejar dan menghukum pelaku rasisme daripada menghentikan seluruh kompetisi. Pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares, mengecam kasus rasisme ini dan menyatakan bahwa olahraga sepak bola didasarkan pada rasa hormat terhadap sesama pemain dan penonton. Dia meminta agar pemain dan suporter tidak merugikan orang lain jika ingin dihormati.

Perilaku rasisme dalam sepak bola juga telah meningkat di Inggris, dengan peningkatan 65% insiden diskriminatif selama musim 2022-2023. Organisasi Kick It Out melaporkan adanya 1.007 laporan diskriminasi yang diterima, termasuk rasisme, pelecehan di media online, dan perilaku seksis. Peningkatan laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan kesadaran dan keinginan orang-orang untuk melaporkan tindakan diskriminasi. FIFA juga mencatat adanya puluhan ribu unggahan berbahasa kasar yang ditujukan kepada pemain, pelatih, dan tim ofisial selama Piala Dunia tahun lalu.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu