Review Film The Nun II

Ulasan The Nun II: Kembalinya Valak, Hantu yang Menakutkan
Suster Irene (Taissa Farmiga) mungkin berharap bahwa setelah berhasil melarikan diri dari bahaya mengerikan, kehidupannya akan kembali normal. Namun, nasib berkata lain karena serangkaian kematian misterius membawanya kembali ke dunia Valak (Bonnie Aarons), seorang hantu yang kejam. Bahkan seorang pendeta meninggal dengan cara yang sangat aneh, terbakar hidup-hidup di dalam gereja pada suatu malam.

Karena Suster Irene adalah satu-satunya yang selamat dari peristiwa di Romania, ia diberi tugas untuk menyelidiki kasus ini. Awalnya ia melakukannya sendirian, tetapi Suster Debra (Storm Reid) merasa bahwa ia memerlukan bantuan, sehingga Suster Debra datang tanpa diundang. Penyelidikan Suster Irene tentang kematian-kematian yang mencurigakan ini membawanya kepada wajah yang pernah menyelamatkannya, Frenchie (Jonas Bloquet).

Tentu saja, bagi para penggemar film horor, Valak adalah karakter yang tak terlupakan. Tubuhnya yang tinggi besar, gigi tajam, dan mata yang tajam membuatnya menjadi sosok yang mudah dikenali. Sejak muncul dalam sekuel pertama The Conjuring, Valak segera mencuri hati banyak penonton. Tidak heran jika Warner Bros. memutuskan untuk memberikan peran utama pada hantu ini, karena ia memang begitu fenomenal.

Sayangnya, meskipun karakter Valak sangat berkesan, aksi Valak dalam The Nun II ini tidak terlalu berbeda dari film sebelumnya. Tidak ada kejutan besar terkait latar belakang karakter utama maupun Valak sendiri. Ketika film berakhir, penonton akan merasa seperti mereka kembali ke titik awal. Valak muncul, menimbulkan teror, protagonis mencoba menyelamatkan diri, dan setelah terlihat seperti berhasil, muncul kesimpulan bahwa iblis tidak mudah dikalahkan. Untungnya, masih ada beberapa elemen menarik dalam The Nun II yang mencegahnya tenggelam dalam kesamaan. Penulis skrip (Ian Goldberg, Richard Naing, dan Akela Cooper) memperkenalkan beberapa hantu lain yang memberikan sentuhan segar pada cerita. Ada hantu anak kecil yang cukup mengganggu, serta momen ketegangan dengan kambing iblis yang membuat jantung berdebar.

Dari segi penyutradaraan, Michael Chaves berhasil menciptakan atmosfer yang menegangkan. Ini adalah ketiga kalinya Chaves terlibat dalam dunia The Conjuring setelah The Curse of La Llorona dan The Conjuring: The Devil Made Me Do It. Meskipun beberapa adegan terduga, Chaves tetap mampu menghadirkan ketegangan yang sesuai. Dari adegan sederhana seperti seorang anak membawa barang di awal film hingga adegan Suster Irene di depan toko majalah yang sudah diperkenalkan dalam trailer. Chaves berhasil menciptakan atmosfer yang mencekam.

Tidak hanya itu, Chaves juga memberikan sentuhan visual yang mengesankan pada The Nun II. Sinematografer Tristan Nyby membawa film ini dengan gambar yang mencekam namun tetap estetis. Jika dibandingkan dengan film sebelumnya, The Nun II terlihat lebih megah dan eksotis. Pemandangan Prancis zaman dahulu yang dipresentasikan dalam film ini sangat memukau.

Secara keseluruhan, The Nun II memang sedikit lebih baik daripada pendahulunya. Namun, film ini masih belum mampu menyamai tingkat ketegangan yang ada dalam The Conjuring atau bahkan Annabelle: Creation yang sangat menyeramkan. Tempo cerita terkadang agak kacau, dan beberapa twist tidak terlalu berkesan. Tetapi tentu saja, jika Anda adalah penggemar seri ini, penampilan Valak tetap menjadi daya tarik utama. Ia tetap mempunyai daya untuk membuat Anda merasa tertutup dalam kegelapan bioskop.

The Nun II bisa dinikmati di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia.

You might also like
Tags: ,

More Similar Posts

Menu