Rokok Murah Penyebab Penurunan Cukai

Masyarakat Indonesia Beralih ke Rokok Murah
Pada tahun 2023, penerimaan cukai dari rokok mengalami penurunan yang signifikan. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu) mencatat bahwa salah satu faktor penyebab penurunan ini adalah fenomena yang dikenal sebagai downtrading.

Downtrading adalah perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang beralih ke rokok dengan harga lebih terjangkau. Menurut Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Jawa Timur I, Untung Basuki, fenomena ini sudah lama menjadi perhatian bagi Bea Cukai.

“Downtrading, sebenarnya, telah menjadi tantangan yang kami hadapi sejak dulu,” ungkap Untung di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu (16/9/2023).

Menurutnya, penurunan konsumsi di Golongan I akan memiliki dampak yang lebih besar terhadap pendapatan cukai hasil tembakau daripada penurunan di Golongan II dan III.

“Penurunan konsumsi di Golongan I akan memiliki dampak yang signifikan dibandingkan dengan Golongan II dan III,” jelas Untung.

Oleh karena itu, Bea Cukai perlu mengkaji ulang struktur tarif cukai untuk mendorong masyarakat kembali mengonsumsi rokok Golongan I. “Kami harus mempertimbangkan apakah struktur tarif saat ini sudah optimal atau belum. Jika dinaikkan, bisa mengakibatkan munculnya rokok ilegal,” tambahnya.

“Atau mungkin karena tarif di Golongan I sudah terlalu tinggi, sehingga orang lebih memilih Golongan II yang memiliki tarif cukai yang lebih rendah,” katanya.

DJBC Kemenkeu mencatat bahwa hingga Agustus 2023, penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) mencapai Rp126,8 triliun.

Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa DJBC, Nirwala Dwi Heryanto, mengungkapkan bahwa jumlah penerimaan ini setara dengan 54,53 persen dari target CHT APBN 2023 sebesar Rp232,5 triliun.

“Dalam kurun waktu Agustus, penerimaan CHT mencapai Rp126,8 triliun atau 54,53 persen dari target,” ujar Nirwala dalam Press Tour Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu (16/9/2023).

Meskipun terjadi penurunan sebesar 5,82 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022, yaitu Rp134,65 triliun, Nirwala optimis bahwa penerimaan cukai hasil tembakau akan mencapai Rp218,1 triliun atau 93,8 persen dari target APBN 2023 pada akhir tahun.

“Target APBN 2023 untuk total cukai adalah Rp245,5 triliun, dengan Rp232,5 triliun berasal dari hasil tembakau. Berdasarkan proyeksi dari laporan semester I-2023, penerimaan CHT diperkirakan mencapai Rp218,1 triliun atau 93,8 persen dari target APBN,” papar Nirwala.

Nirwala juga menjelaskan bahwa beberapa faktor yang memengaruhi pencapaian target penerimaan CHT 2023 adalah peralihan konsumsi ke Golongan II, migrasi konsumen dari rokok konvensional ke rokok elektrik, dan peningkatan peredaran rokok ilegal.

“Potensi ketidakcapaian target penerimaan disebabkan oleh tiga faktor, yaitu downtrading ke Golongan II, peralihan konsumsi ke rokok elektrik, dan maraknya peredaran rokok ilegal,” kata Nirwala.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu