TikTok Shop Ditutup!

TikTok Shop Tutup, TikTok Buka Peluang Kembangkan Marketplace Lokal

Tutupnya platform jual beli TikTok Shop telah menimbulkan spekulasi mengenai langkah selanjutnya dari platform asal China ini di Indonesia. Ketua Umum Indonesia Digital Empowering Community (Idiec), Tesar Sandikapura, mengungkapkan bahwa masih ada kemungkinan TikTok akan membuat marketplace terpisah.

Tesar mengatakan bahwa keputusan ini mungkin diambil karena jika TikTok hanya mengandalkan pendapatan dari media sosial, maka pendapatan tersebut akan terbatas. Selain itu, menurut Tesar, langkah ini sejalan dengan anjuran pemerintah. Ia juga menambahkan bahwa rencana tersebut masih sesuai dengan rencana bisnis awal TikTok. “Cuma bedanya harus meng-install dua aplikasi saja. Fungsinya mirip TikTok Shop,” ujar Tesar.

Menurut Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, TikTok masih diizinkan untuk melakukan bisnis sosial commerce dan promosi. Namun, jika TikTok ingin beroperasi sebagai e-commerce, maka harus memiliki izin yang sesuai. “Jadi dia sosial media silahkan, kalau dia mau social commerce boleh sampai iklan, boleh promosi. Tapi kalau menjadi e-commerce ya tentu dagang, transaksi, ada izinnya sendiri. Jadi kita tata yang betul, ditata,” ujar Zulkifli Hasan.

Sebagai informasi, TikTok secara resmi akan menutup TikTok Shop Indonesia pada Rabu, 4 Oktober 2023, pukul 17.00 WIB. Keputusan ini diambil dengan mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku di Indonesia. TikTok mengungkapkan bahwa mereka tidak akan lagi memfasilitasi transaksi e-commerce di dalam TikTok Shop Indonesia setelah tanggal tersebut.

Meskipun demikian, TikTok berjanji akan terus berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia mengenai langkah-langkah dan rencana sosial commerce mereka di masa depan. Penutupan TikTok Shop ini juga merupakan respons terhadap Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 31 Tahun 2023 yang mengatur berbagai aspek terkait e-commerce dan social commerce. Salah satu aspek penting adalah pengaturan mengenai model bisnis social commerce yang hanya diperbolehkan untuk promosi produk, bukan untuk melakukan transaksi. Hal ini untuk menghindari praktik predatory pricing seperti yang diatur dalam Pasal 21 ayat 3 Permendag tersebut.

You might also like
Tags:

More Similar Posts

Menu