Waspada Konten Hoaks Pemilu

Alfons Tanujaya, seorang ahli keamanan siber dan konsultan dari Vaksincom, menyampaikan bahwa di seluruh dunia, hoaks telah menjadi salah satu alat yang sering digunakan oleh berbagai pihak, terutama dalam konteks persaingan dalam pemilihan umum (pemilu).

Menurut Alfons, hoaks digunakan tanpa memandang negara maju atau berkembang sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Alfons melalui pesan singkat pada tanggal 5 November 2023.

Selain itu, ia juga mencatat bahwa pembuatan konten hoaks dan berita palsu semakin banyak dan mudah dilakukan. Hanya dengan memiliki sedikit data wajah dan sampel suara, seseorang dapat membuat video palsu yang sangat mirip dan sulit dibedakan dengan teknologi deep fake dan sejenisnya. Alfons menekankan bahwa perbedaan antara berita asli dan palsu menjadi semakin sulit dilakukan karena perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Alfons juga memberikan saran kepada partai politik dan berbagai pihak yang terlibat, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan kepolisian, untuk bekerjasama dalam mengidentifikasi dan menindak usaha penyebaran hoaks yang berpotensi memecah belah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kerugian akibat hoaks tersebut akan dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk para politisi.

Untuk menghindari penyebaran hoaks, Alfons menyarankan masyarakat agar bijak dalam memilah informasi dan tidak mudah mempercayai berita yang diterima tanpa melakukan crosscheck terlebih dahulu. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa sumber informasi berasal dari situs terpercaya dan melakukan crosscheck berulang kali sebelum membagikan informasi tersebut.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, melaporkan bahwa jumlah hoaks yang berkaitan dengan Pemilu 2024 mengalami peningkatan hampir 10 kali lipat dalam satu tahun terakhir. Peningkatan signifikan terjadi sejak Juli 2023 dan terus berlanjut hingga Oktober 2023. Budi berharap agar seluruh lapisan masyarakat lebih berhati-hati sebelum menyebarkan informasi melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Hal ini diharapkan dapat mencegah penyebaran hoaks yang berpotensi merusak kualitas demokrasi dan menyebabkan polarisasi. Sejalan dengan semangat “Pemilu Damai 2024”, Kementerian Komunikasi dan Informatika menggalakkan kampanye “Awas Hoaks Pemilu” sebagai pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi terkait Pemilu.

You might also like
Tags: ,

More Similar Posts

Menu